| Yang Paling Perlu Diketahui Mengenai Gempa dan Tsunami |
| Ditulis Oleh Tim Redaksi | |||
| Wednesday, 07 October 2009 | |||
|
Sepanjang yang saya tahu, belum ada teknologi yang bisa melakukan prediksi tersebut. Yang bisa diprediksi adalah potensi titik gempa mana yang mungkin muncul di seluruh Indonesia.
Sejauh ini apakah gempa-gempa yang terjadi mengikuti titik-titik yang sudah diprediksikan tersebut atau tidak? Sebenarnya di Indonesia terdapat ribuan titik potensial yang kita tidak tahu tepat lokasinya. Tapi ada catatan-catatan sejarah yang menunjukkan bahwa dititik tersebut dulu pernah terjadi gempa contohnya Simeleu. Kemudian potensi berikutnya barangkali di Mentawai yang juga memilliki catatan sejarah gempa. Jadi daerah-daerah yang pernah mengalami gempa memiliki kemungkinan untuk mengalami kembali peristiwa tersebut? Betul. Gempa merupakan aktivitas pengulangan dan pengulangan tersebut bisa terjadi kapan saja baik dalam 10 tahun, 50 atau bahkan 100 tahun.
Bagaiamana dengan pantai barat Bali ? Apakah wilayah tersebut memiliki potensi juga? Padahal kita tahu wilayah tersebut merupakan wilayah wisata yang relatif cukup ramai. Ada data yang menunjukan hal tersebut pernah terjadi di Bali tahun 1818. Ketika kita sudah memiliki sejarah, otomatis hal itu sudah seharusnya menjadi peringatan awal buat kita.
Mengapa sekarang ini sering terjadi Tsunami? Dulu waktu saya kecil sering terjadi gempa bumi tapi tidak diikuti tsunami. Apakah tsunami ini sedang menjadi tren atau bagaimana? Bukan tren, namun mungkin dulu tsunami tidak dipublikasikan secara luas karena tidak dikategorikan sebagai bencana nasional. Mungkin tanggung jawab lembaga-lembaga sebagai penyebar informasi tidak berjalan optimal. Sebagai contoh tsunami yang dulu terjadi di Biak atau di Flores tidak dilihat sebagai hal yang luar biasa padahal sekitar 2000 orang meninggal saat itu.
Jadi pada dasarnya gempa yang diikuti tsunami itu cukup sering terjadi. Kita tentunya mengerti kalau gempa yang terjadi di Iran itu terjadi di daratan. Tapi di Indonesia, apa karena kita dikelilingi laut maka kemungkinan gempa yang diikuti tsunami itu menjadi sangat besar? Gempa itu memang ada gempa tektonik yang memang berasal dari tumbukan dua lempeng dari samudera kemudian dari daratan. Namun ada juga gempa yang merupakan patahan lempeng di darat yang pasti tidak menimbulkan tsunami.
Jadi kalau goncangan yang terjadi sepenuhnya di darat tidak akan menimbulkan gelombang-gelombang besar? Misalnya goncangan yang diakibatkan gunung Merapi yang dekat dengan laut. Betul. Saudara-saudara kita di Bantul juga sebenarnya tidak perlu khawatir akan tsunami karena letak mereka yang relatif cukup jauh dari laut.
Waktu tsunami melanda Pangandaran, Cilacap dan Kebumen, apakah kerusakan yang terjadi diakibatkan gelombang air atau justru karena gempanya sendiri? Mungkin kekuatan air yang menghempas itu cukup besar. Ketika gelombang itu menghempas itu dimasifikasi oleh reruntuhan. Jadi jika ada orang yang selamat karena bisa berenang tapi kemudian dia akan terbawa oleh reruntuhan tersebut.
Apakah masyarakat yang berada jauh dari jangkauan gelombang, katakanlah yang berada 30 km dari pantai, bisa menjadi korban? Mungkin tidak menjadi korban secara langsung, tetapi korban sekunder karena mata pencaharian mereka yang berada di pesisir hancur karena tsunami.
Apakah orang-orang yang berada di luar daerah primer perlu dievakuasi atau tidak? Yang perlu adalah informasi dan keahlian mengenai apa yang harus masyarakat lakukan di daerah rawan. Sebagai contoh masyarakat yang berada di zona merah yang dekat dengan pantai harus lari kemana. Kemudian masyarakat yang di zona kuning yang relatif hampir aman, bagaimana dia menerima masyarakat dari daerah rawan. Hal itu merupakan sebuah keterkaitan yang tidak bisa lepas.
Jadi evakuasi tsunami itu sebenarnya diperuntukan bagi masyarakat yang ada di pesisir pantai. Saya mendapat kabar bahwa di beberapa tempat yang agak jauh dari pesisir, pernah ada keresahan untuk evakuasi. Lalu saya berpikir, apakah perlu untuk memberi tahu orang orang ini bahwa kalu mereka sudah jauh dari laut sebaiknya jangan kemana-mana. Apakah advise semacam ini salah atau ok-ok saja? Betul. Penegasan dan informasi yang jelas seperti itulah yang masyarakat butuhkan.
Saat ini banyak orang yang mengira dalam keadaan bencana dia harus pindah ke tempat lain. Padahal mungkin yang paling aman itu adalah tempat dimana dia berada. Lalu yang disebut evakuasi tsunami itu bagaimana? Bagaimana bisa memberi peringatan awal padahal bencana tersebut tidak dapat diprediksi? Dan kapan harus memberitahu orang untuk melakukan evakuasi? Sebenarnya yang paling penting untuk masyarakat ketahui adalah potensi bencana apa yang ada di daerah mereka. Kalau berbicara tsunami mungkin masyarakat yang tinggal di Kalimantan tidak perlu banyak khawatir. Masyarakat perlu tahu apa yang harus mereka lakukan saat dan setelah gempa terjadi.
Apakah orang memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari tsunami? Sebaiknya dilatih dari sekarang, jangan menunggu tsunami datang.
Kalau dilatih memangnya ada waktu berapa lama untuk evakuasi? Memang waktu evakuasi tergantung dari pusat gempa dan kedangkalan.
Saya pernah dengar bahwa tsunami Aceh sampai dari lautan Hindia dalam waktu berjam-jam. Apakah betul? Kalau tsunami Aceh, pusat gempanya berada dekat dengan Simelue, Banda Aceh dan sekitarnya. Itu menjadi tsunami lokal.
Jadi tidak berjam-jam? Yang berjam-jam itu di wilayah lain seperti Srilanka dan seterusnya. Jadi mereka punya waktu yang cukup lama untuk untuk mengevakuasi. Tapi di Maumere, Nusa Tenggara Timur waktunya hanya empat menit. Jadi jka terjadi gempa sebesar apapun sebaiknya lari ke daerah tinggi.
Jadi kalau tinggal di daerah yang rawan seperti itu sepertinya harus siap untuk meninggalkan barang-barang. Yang juga menjadi hal penting adalah ketika dia laripun jangan sampai terprovokasi oleh orang-orang yang menumpang di kondisi seperti itu. Sebaiknya tunggu sampai ada informasi berikutnya dari pemerintah yang menyatakan keadaan sudah aman.
Saya dengar bahwa pusat gempa yang menyebabkan tsunami Aceh berbeda dengan pusat gempa yang menyebabkan tsunami di Phuket dan Srilanka. Mengapa bisa ada dua epicenter pada saat yang bersamaan? Sepanjang pengetahuan saya, epicenternya tetap sama, namun akibat yang ditimbulkan berbeda antara Aceh dengan Phuket, karena tergantung jauh tidaknya daerah dengan lokasi epicenter.
Apakah frekuensi tsunami saat ini semakin bertambah atau tidak? Dua tahun belakangan ini kita memang ditimpa tsunami 3 kali atau lebih.
Ada penjelasan ilmiah mengapa hal itu terjadi? Kalau istilah profesionalnya jatuh temponya kebetulan sama.
Saat ini banyak orang yang mencari penjelasan supranatural sehubungan dengan banyaknya bencana yang terjadi. Christian Science Monitor, salah satu media terbesar di dunia, menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia menganggap kejadian-kejadian ini sebagai peringatan kekuatan supra natural. Ada yang bilang karena pemerintahan SBY tidak beres, walaupun saya juga ngeledekin pemerintahan SBY tapi saya rasa bukan karena dia tidak beres, tapi pasti ada sesuatu sebab. Kemudian banyak orang bertanya mengapa hal-hal ini terjadi di masa pemerintahan SBY, apa yang bisa menjelaskan semua kebetulan itu? Kita perlu membalik persepsi kita ini dengan pemikiran bahwa negara kita ini memang pada dasarnya rawan bencana.
Jadi ada satu masa dimana bencana-bencana itu tidak terjadi dan kini sekarang sedang terjadi dan kita juga tidak bisa mengira-ngira periodesitasnya. Betul.
Kembali pada faktor pengulangan. Efek pengulangan itu seperti apa? Apakah daerah-daerah yang pernah terkena gempa lebih cenderung untuk gempa lagi? Kemungkinan besar akan terulang. Peneliti kami di geoteknologi LIPI pernah menyatakan bahwa kalau kita mau belajar masa depan kita harus belajar dari masa lalu.
Sepertinya hal ini merupakan hal yang penting untuk disosialisasikan. Menurut Anda upaya sosialisasi apa lagi yang sebaiknya dilakukan? Sosialisasi itu banyak tingkatannya. Dari tingkat nasional sampai ke level masyarakat yang harus merasakan sendiri bagaimana caranya dia berlindung di bawah meja, bagaimana mengerti dinamika lempeng bumi dan seterusnya. Jadi ada berbagai jenjang sosialisasi yang harus kita lakukan karena tidak cukup kita datang ke satu masyarakat dan hanya menyampaikan secara scientific. Hal tersebut tidak akan mengena dan mudah untuk dilupakan masyarakat.
Saya ingin menegaskan satu hal bahwa gempa bumi terjadi antara lain oleh geseran lempeng tektonik atau lainnya. Kalau itu terjadi di laut bisa menimbulkan tsunami. Tidak ada hubungan antara kejadian fisik yang terjadi di daratan seperti pengundulan hutan, air yang tercemar dengan aktifitas geologis ini. Hal tersebut sepenuhnya berdasarkan sejarah geologi. Betul atau tidak poin itu? Benar. Tidak ada hubungan sama sekali dengan aktivitas di darat atau aktivitas manusia.
Kemudian gempa itu sama sekali tidak bisa diprediksi Namun tsunaminya bisa
Tsunami baru bisa diprediksi kalau gempanya sudah ada, tapi gempanya sendiri tidak bisa betul demikian? Tapi potensinya dapat diketahui melalui catatan sejarah
Kalau tidak bisa diprediksimaka yang disebut early warning system itu seperti apa? Mungkin bukan early warning system, tapi warning system atau tsunami warning system.
Apakah Indonesia dinyatakan rawan gempa karena memiliki catatan sejarah dalam hal itu atau bagaimana? Karena Indonesia memang berada di antara tiga lempeng yang dinamis dan terus bergerak.
Daerah mana di Indonesia yang paling mempunyai potensi gempa? Hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi gempa. Namun saat ini kami sedang membangun kesiapsiagaan masyarakat secara intesif di kota Padang, mengingat patahan di Pulau Mentawai memang dalam kondisi stress.
Berubah kondisinya dari jaman ke jaman? Kondisi stress itu mungkin bisa dianalogikan ketika kita menekan dua buah sendal jepit terus menerus, yang satu statis, yang satu bergerak terus, suatu saat dia bisa melenting.
Jadi lempengan-lempengan itu seperti mengambang atau bergerak-gerak? Yang satu statis lempeng darat dan lempeng dari samudera menekan terus ke bawah. Ketika dia menekan terus ke bawah maka suatu saat dia akan mencari titik kesetimbangan lagi dan akan melenting. Ketika dia melenting ini bisa terjadi tsunami atau tidak terjadi tsunami.
Pengetahuan tersebut hanya bisa dipakai secara ilmiah atau bisa diterjemahkan menjadi early warning system. Misalnya sendal jepitnya sudah mulai stress atau lempengannya sudah mulai jalan, maka kita bisa coba mengamankan pesisir. Bisa tidak? Seharusnya bisa, tapi karena pengkajian kita masih terbatas. Mungkin Sumatera cukup lengkap datanya, tapi di wilayah lain kita belum begitu lengkap.
Waktu muncul bencana di pantai selatan Jawa, apakah orang-orang LIPI sudah mengira hal itu akan terjadi? Ada salah satu peneliti kita, kepala UPT Karang Sambung berencana akan melakukan sosialisasi tsunami dan gempa di Kebumen. Jadi itu menurut prediksinya Kebumen merupakan salah satu daerah yang rawan tsunami. Tapi kemudian tsunami lebih dulu terjadi disana.
Poin utama dari sosialisasi itu sebenarnya adalah apa yang harus dilakukan kalau ada bahaya gempa dan tsunami. Poin-poin apa saja yang perlu kita perhatikan? Ketika gempa, yang pertama kita lihat adalah kondisi bangunan di sekitar rumah, sekolah atau kantor. Kalau rumah di rumah masih retak-retak maka kita masih sempat berlindung di kusen atau pintu. Tapi kalau ada kesempatan sebaiknya segera ke luar ke lapangan.
Jadi kalau sedang berada di dalam rumah sebaiknya berlindung di bawah kusen, bukan di bawah meja? Bisa juga di bawah meja. Perkaranya kita harus hati-hati ketika kita bilang berlindung di bawah meja, karena meja kita bermacam-macam jenisnya, apalagi di sekolah. Jadi ketika kita mau meminta anak-anak berlindung di bawah meja, kita harus lihat dulu kondisinya baru kita suruh anak kita berlindung di sana. Kalau tidak, lebih baik ke lapangan terbuka kalau memungkinkan dengan cepat.
Kalau kita ada di lantai 10 suatu gedung Jl. Jendral Sudirman bagaimana? Disinilah letak pentingnya latihan. Jangan menggunakan lift. Kalau kita tidak pernah berlatih, otomatis kita akan panik dan tidak tahu harus apa sehingga mengakibatkan korban yang lebih banyak. Bagaimana kita meredam kepanikan kita dengan pengalaman evakuasi. Jadi kita harus turun pakai tangga.
Kalau menghadapi tsunami? Tsunami biasanya disebabkan gempa di atas 6,2 skala richter dan pusat gempanya ada di bawah laut dan cukup dekat dengan darat. Jika kita terjebak dalam situasi gempa ada baiknya kita lari ke tempat yang tinggi dan menjauhi laut.
Apakah bisa mengatasi tsunami dengan ikut berenang dengan ombak itu? Kalau pengalaman di Aceh, untuk nelayan yang menggunakan kapal di tengah laut, mereka sebaiknya lebih ke tengah laut lagi sehingga dia bisa terbawa ombak.
Kalau kita di pantai kemudia ada tsunami tsunami, berapa puluh meter biasanya yang kita terhindar dari tsunami itu? Hal itu akan sangat tergantung dengan kedangkalan pantainya dan seterusnya
Kalau melihat kasus di Aceh atau Phuket? Aceh itu sekitar 3 kilometer-an. Selain itu pemerintah daerah harus perhatikan kepadatan penduduk di daerah tersebut.
Kalau naik motor mungkin bisa lari 3 kilometer dalam waktu ½ jam Betul. Masalahnya kalau semua orang pakai mobil. Hal tersebut tentu akan membuat jalan terhalang, terblok dan sebagainya. Hal ini tentunya sudah bukan urusan masyarakat lagi tapi harus pemerintah yang turun tangan. Source: http://www.perspektifbaru.com/wawancara/542
written by wow power leveling, June 01, 2010 we offer wow gold and luna gold and wow gold or wow power leveling written by wow power leveling, June 01, 2010 We are sell wow gold and wow power leveling and world of warcraft power leveling or wow gold |
|||















