YOUR COMMENTS

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday45
mod_vvisit_counterYesterday31
mod_vvisit_counterThis week325
mod_vvisit_counterThis month207
mod_vvisit_counterAll15144

Check Your Mapping



Address:
City:
State:
Zip:


Back to Basic
Aug 11 2008
GEOLOGI BATUBARA
Ditulis Oleh Administrator   
Monday, 11 August 2008

Batubara adalah bahan bakar hidrokarbon padat yang terbentuk dari hasil akumulasi sisa-sisa tumbuh-tumbuhan dalam lingkungan bebas oksigen dan terkena pengaruh panas serta tekanan yang berlangsung pada kondisi tertentu. Proses yang disebut pembatubaraan (coalification) ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun serta memiliki tahap – tahap kematangan.

Tahap awal pembentukan dimulai dari gambut (peat) kemudian lignit, disusul selanjutnya batubara sub-bituminus, bituminus, dan akhirnya antrasit. Tingkat perubahan kematangan dari lignit hingga antrasit disebut sebagai proses pematangan (maturation coalification). Proses ini juga dapat diartikan sebagai proses pengeluaran berangsur-angsur dari zat pembakaran (O2) dalam bentuk karbondioksida (CO2) dan air (H2O) hingga akhirnya menyebabkan konsentrasi karbon tetap, karena itu proses ini bisa disebut juga sebagai karbonifikasi (read more)

 
Aug 11 2008
Reservoir Batugamping
Ditulis Oleh Administrator   
Monday, 11 August 2008
  1. Geometri, dimensi dan skala: Karbonat terutama yang berasosiasi dengan reef dan paparan mempunya geometri yang berbeda dengan klastik biasa seperti batupasir. Misalnya pada reef, tekstur dan besar butirnya sangat beragam tergantung jenis  "organik" seperti coral and associate yang tumbuh berdasarkan kedalaman. Pada lingkungan ini kemunginan ada 'primary porosity" yaitu terdapat disela-sela kerangka. Geometri seperti ini akan sangat baik direkonstruksi dengan pemodelan yang dibangun dari pengamatan lapangan modern reef seperti pulau Seribu dan ancient reef seperti di Formasi Rajamandala Ciatatah - Padalarang dan tentunya data bawah pemukaan geologi reservoir yang menjadi target.

  2. Secondary porosoity didalam karbonat masuk dalam wilayah "diagenesis" yang berkaitan dengan fasies, lingkungan pengendapan dan "exposure" phenomena pasca sedimentasi dan litifikasi. Di Indonesia, 2nd Porosity (2nd por) umumnya dikontrol oleh diagenesis, sedang di arid climate seperti di mediterania sebagian porosity dikontrol oleh facies, misalnya pada oolitic limestone positasnya mirip dengan batupasir yang well rounded. 2nd Por didaerah tropis umumnya disebabkan pelarutan "fresh water" setelah formasi batugamping ter "expose" diatas muka laut. Pelarutan ini biasanya didahului dengan berkembangnya  "fracture network", lalu air tawar yang umumnya air hujan mulai bekerja membentuk porositas atau ruang-ruang yang dapat menghasilkan pori-pori yang kecil hingga raksasa! Karena itu tida heran 2nd por di ls (limestone) bisa dimasuki orang bahkan di Perancis gua-guanya bisa dipakai berlayar dengan boat! Dengan demikian dimensi di golkar (golongan karbonat) bukanlah hal yang sederhana untuk dipahami.

  3. Resolusi petrofisika vs petrography: petrofisika resolusinya mungkin dalam dimensi cm hingga dm (atau bahkan meter ?), karenanya segmen yang bisa di 'trace" dalam log mungkin masih relatif kasar bila dibandingan dengan mikroskopis dari sayatan tipis. Dengan petrografi dapat diamati besaran dari mikron hingga mm, selain itu kita akan dapat melihat bagaimana  fasies dan sejarah diagenesisnya. Dengan penelitian diagenesis ls, dapat diperkirakan bagaimana distribusi 2nd por nya. Data seismik juga bisa kolaburasi dengan petrografi, terutama untuk memperkirakan geometri dan dimensi paparan karbonatnya. Mungkin perlu kerjasama yang baik antara divisi petrologi, petrofisik dan seismik untuk membangun model underground golkar. Cutting petrologic analyses bisa sangat membantu petrofisik untuk memahami development of 2nd porosity.

Sumber :milis IAGI